Pendidikan

Jenis Masalah Anak DalamPengelolaan Kelas

4views

Untuk melakukan pengelolaan kelas yang efektif diperlukan kehati-hatian dalam mengidentifikasi suatu masalah, apakah masalah ini bersifat individual atau kelompok. Kekurang hati-hatian guru dalam memahami masalah dapat menyebabkan kekeliruan dalam menentukan jenis masalah yang muncul. Misalnya, bisa saja terjadi masalah kelompok dilihat sebagai masalah individual atau sebaliknya.

  1. Masalah individual
    Masalah Individual adalah masalah pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah individu anak. Ada 4 katagori masalah individual dalam kelas. Diantaranya adalah sebagi berikut
    a) Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain
    b) Tingkah laku yang ingin menunjukan kekuatan
    c) Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain
    d) Peragaan ketidak mampuan.
    Bentuk-bentuk perilaku tersebut dapat mengganggu kelancaran pembelajaran. Masalah individual dilihat sebagai wujud dari bentuk perilaku tersebut diantaranya:
    a) Anak sering menunjukan gerak tubuh/perilaku yang tampak kebodoh-bodohan/berbuat aneh yang semata-mata untuk menarik perhatian kelas.
    b) Anak tertawa lebih keras dibandingkan teman-temannya
    c) Anak suka bercanda dan sering menggoda teman.
    d) Anak pura-pura sakit
    e) Anak pura-pura tidak menngerti sehingga selalu bertanya.
    f) Anak selalu menunjukkan yang lamban.
    g) Anak sering berdebat dan kehingan kontrrol.
    h) Anak cenderung menunjukan perilaku ingin mengalahkan orang lain.
    i) Anak marah-marah (tindakan aktif) dan agresif.
    j) Anak menarik diri dan tidak mau melaksanakan kewajibannya.
    k) Anak selalu lupa pada aturan penting dalam kelas.
    l) Anak melakukan tindakan fisik yang menyakiti orang lain.
    m) Anak tidak mau menerima tugas dan selalu mengatakan tidak bisa.
    n) Anak merasa pesimis atau putus asa.
    o) Anak memiliki rasa permusuhan atau menentang semua peraturan.
    p) Anak pasif atau potensi rendah, datang ke sekolah tidak teratur.
    Sedangkan Rodolf Dreikurs dan Cassel yang dikutip oleh M. Entang dan T. Raka Joni mengelompokan masalah indiidu menjadi empat, yaitu:
    a) Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang
    b) Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan
    c) Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain
    d) Peragaan ketidakmampuan.
  2. Masalah kelompok
    Masalah kelompok adalah masalah pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah kelompok. Johnson dan Bany mengemukakan 5 kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu sebagi berikut:
    a) Kelas kurang kohesif,
    misalnya perbedaan jenis kelamin, suku, dan tingkatan sosio-ekonomi. Kelas yang kurang kohesif ditandai dengan lemahnya hubungan interpersonal di dalam kelas. Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkat sosial ekonomi. Sering terlihat adanya permusuhan sekelompok anak perempuan dengan sekelompok anak laki-laki. Lemahnya hubungan ini terlihat pula karena perbedaaan suku, kota asal, kampung atau tempat tinggal. Di dalam kelas sekelompok anak ini bisa menampakkan hubungan yang sangat jarak dan tidak akrab dan terkadang bisa menimbulkan pertentangan-pertantangan di dalam kelas. Pertentangan itu bahkan ditambah pula oleh faktor pemicu lain seperti berbedanya tingkat sosial ekonomi mereka. Setiap kelompok anak membangun suatu kekuatan atas dasar persamaan-persamaan yang dimiliki. Dalam hal ini masing-masing kelompok bisa saling menutup diri dalam pergaulannya, sehingga sulit jika guru menugaskan suatu tugas kerjasama.
    b) Kelas bereaksi negatif terhadap salah satu seorang anggotanya,
    misalnya mengejek anggota kelas dalam menyanyi karena suaranya sumbang. Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang siswa dapat pula menimbulkan masalah dalam kelas, misalnya dengan mentertawakan, menghina secara bersama-sama, yang menyebabkan kelas menjadi ribut dan tidak kondusif untuk belajar. Biasanya anak yang diketawakan anak yang pemalu, cengeng, suaranya sumbang kalau bernyanyi dan berpenampilan kurang menarik.
    c) Membesarkan hati anggota kelompok kelas yang justru melanggar norma kelompok,
    misalnya pemberian semangat kepada badut kelas. Dukungan kepada badut kelas mengakibatkan pula makin berlarutnya masalah di dalam kelas. Anak yang membadut makin menunjukkan kebolehannya melucu dan berperilaku yang aneh-aneh. Hal ini menimbulkan sorak-sorai dan tertawaan anak yang berlebihan sehingga dapat mengalihkan perhatian anak untuk belajar.
    d) Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah dikerjakan.
    Mudahnya teralihkan perhatian anak selain karena anak yang membadut juga karena hal-hal lain yang dengan cepat memancing perhatian anak, seperti melihat peralatan belajar dan mainan kawan yang baru, tindakan-tindakan iseng dari kawan, dan situasi lingkungan sekolah yang kurang mendukung kegiatan belajar.
    e) Semangat kerja rendah,
    misalnya semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil. Masalah anak secara kelompok juga terjadi karena semangat kerja rendah sebagat akibat perlakuan yang tidak adil dari guru, seperti ketidakadilan dalam menentukan jenis tugas yang dikerjakan, dan peralatan atau bahan yang ditentukan guru.

Leave a Response